All About Love

Cinta, masalah yang selalu ada. Pembahasan yang tak pernah selesai. Banyak suka duka di dalamnya. Bohong jika orang tidak pernah merasakan cinta. Hidup kita bahkan dikelilingi cinta. Setidaknya satu orang punya satu cinta untuk diberikan ataupun ia yang menerima cinta. Cinta memang erat kaitannya dengan hubungan lawan jenis. Hubungan yang melandasi mereka untuk menyatukan cinta dalam sebuah janji. Tapi janji itu umumnya untuk kedua pasang insan yang saling mencintai, menyayangi dan mampu menerima pasangannya. Bagaimana jika sebuah hubungan tidak dilandasi dengan cinta? Apakah akan mampu bertahan?

Jawabannya tentu saja. Ini tergantung kita dan pasangan yang mampu memahami arti penting sebuah ikatan suci. Jika menjalin hubungan untuk tujuan baik dan saling mengerti satu sama lain maka cinta lama-lama akan tumbuh. Setidaknya jika memang mencintai seseorang yang sudah hidup bersama kita itu sulit, maka berikanlah yang terbaik untuknya. Walaupun tanpa cinta, tapi rasa sayang dan saling membutuhkan itu juga penting untuk membangun pondasi yang kuat. Meski banyak faktor lain yang dapat memperkokoh sebuah hubungan seperti rasa saling percaya, memahami satu sama lain dan setia. Adanya cinta tanpa kesetiaan sama saja membangun rumah di daerah banjir. Sekali duakali terkena banjir memang masih kokoh. Tapi untuk beberapa kali lagi terjangan air itu maka bisa membuat cat terkelupas. Cat merupakan bagian terluar, jika bagian yang luar saja sudah hilang maka akan kemungkinan tembok yang terlalu lama diterjang banjir akan rapuh meski butuh waktu lama. Sedangkan banjir sendiri merupakan gangguan dari luar yang tidak dikehendaki. Siapa yang menginginkan bencana terjadi? Tentu saja semua orang pasti berdoa agar selalu diberi keamanan dan dijauhkan dari musibah maupun bencana.

Dari hal di atas, dapat disimpulkan bahwa cinta bukan jaminan hidup seseorang dan pasangannya akan bahagia. Tanpa cinta memang terkadang menyakitkan tapi lebih menyakitkan jika sakit karena cinta itu sendiri.

Aku Ingin Memusnahkan Rasaku

Perasaan memang hal yang sensitive, terlebih jika menyangkut masalah hati. Perasaan suka pada orang lain tidak bisa dihindari karena hal itu murni dari dalam hati. Bahkan saat bertemu dengan orangnya saja bisa membuat seharian memikirkannya. Ingin aku menghilangkan rasa itu sebantar saja. Sekuat apapun aku berusaha kalau hati belum bisa berpaling memang sulit sekali. Aku tahu akibat jika ini berlangsung terus menerus. Pasti ujung-ujungnya patah hati. Sakit sekali. Oleh karena itu aku harus move on. Banyak alasan harus move on tapi yang paling sering adalah dia sudah ada yang punya. Maka move on itu adalah suatu kewajiban. Tapi kalau move on terus patah hati lagi, itu mungkin sudah jadi nasib. Cara lain mungkin berusaha mencari orang sebagai pelampiasan tapi syaratnya jarang ketemu, dia sangat jauh, dan aku hanya tahu namanya. Itu lebih baik, karena sama sekali tidak tahu seperti apa orangnya. Aku memang mudah menemukan orang seperti itu, tapi biasanya hanya lalu. Kecuali satu orang, yang hanya aku temui secara 15 hari berturut-turut. Selama itu aku hanya tahu namanya dan sedikit kepribadiannya. Walaupun begitu aku tetap menyukainya sampai sekarang. Kalau soal setia, selama aku punya ikatan dengan seseorang aku akan berusaha setia. Aku memang mudah jatuh cinta tapi untuk masalah kesetiaan selama itu untuk membina hubungan baik maka aku akan berusaha setia. Dan aku bersyukur masih memiliki rasa cinta meski awalnya patah hati tetapi aku yakin suatu saat akan indah.

Saat Kayakinan Menguji

Sepasang manusia saling mencintai dan melanjutkan hubungan mereka ke tingkat yang lebih tinggi adalah hal yang diinginkan semua orang. Namun jika ada syarat yang belum terpenuhi di antara keduanya, apa mereka bisa mencapai keinginan itu. Satu kata yang dapat memudarkan semua yaitu keyakinan. Tidak masalah jika tidak ada perbedaan dalam kayakinan. Memang keyakinan merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Jika dalam satu keluarga lebih tepatnya pasangan itu punya perbedaan dalam keimanan mereka, pasti akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Meskipun ada yang punya hubungan seperti itu. Tapi untuk hidup dalam sebuah perbedaan, rasanya aku tidak bisa. Sebesar apapun cintaku pada seseorang aku tidak akan mengorbankan keimananku. Walau itu menyakitkan tapi aku yakin suatu saat aku pasti akan mendapat yang lebih baik. Tidak peduli aku harus mulai mencintai seseorang dari awal, memulai hidupku lagi. Aku tidak menyesal dengan keputusanku, meninggalkan masa lalu untuk masa depan. Selama aku masih dalam batasan-batasan keyakinanku. Karena aku berjanji pada diriku untuk tetap mempertahankannya.

Memulai Hidup Baru

Pernikahan, itu hal yang membahagiakan bagi seorang pasangan. Saat kita telah merasa nyaman dengan seseorang, pasti pernikahan yang diinginkan oleh pasangan yang saling mencintai. Yang membuat mereka bersatu hingga menginginkan pernikahan, hidup bersama adalah cinta. Bagaimana jika cinta itu tidak ada? Mengikat janji suci dan memulai hidup baru bersama seseorang yang kau percaya untuk menjadi imammu kelak. Awalnya sangat sulit. Aku harus memahami sikap dan sifat-sifatnya yang tak terduga. Belajar menyesuaikan, menempatkan diri dengan keadaan yang baru. Menahan setiap emosi yang akan meledak saat dia melakukan sesuatu yang kita anggap salah. Kesabaran kunci itu semua. Sempat aku berpikir bahwa jika ada cinta di antara kami, akankah hidup baru ini tidak membutuhkan penyesuaian. Aku hampir saja ingin menenggakhirinya. Aku menyesali semua ini. Hidup dengan orang yang kita percayai akan membawaku untuk hidup lebih baik tapi sama sekali berbeda dengan harapanku. Kemudian aku sadar jika ia tidak akan tahu keluhan dan semua yang mengganjal di hatiku jika aku tidak membicarakannya. Perlu waktu memang untuk memahami satu sama lain. Tapi itulah hidup, jika kita tidak saling terbuka maka pikiran kita akan selalu dipenuhi rasa kesal tanpa tahu perasaan orang lain.

Mengenalmu untuk Pertama

Siapa bilang mencintai orang harus melihatnya dan mengenalnya dengan baik. Yang aku maksudkan mengenal dengan baik adalah dia tahu tentangmu dan sebaliknya. Aku, seorang perempuan yang tidak memandang cinta dari kedua hal itu. Freak, memang cinta itu kadang gila. Aku tahu dia dari sebuah ide yang cukup absurd. Saat itu aku menebak nama seseorang yang pernah aku temui di rumah sakit, aku menyukainya pada pandangan pertama. Dengan iseng-iseng, aku cari nama yang aku tebak tadi. Ada banyak nama dengan nama lengkap yang macam-macam. Mulai aku pilih nama yang tidak alay. Aku kepoin semua tentangnya, termasuk pacarnya. Selama tiga bulan lebih aku stalk dia, bukannya bosan aku malah semakin tertarik. Bulan ke 8 aku memutuskan untuk stop kegilaanku. Berhasil, tapi satu yang susah untuk dihentikan. Rasaku padanya. Masih sama, aku tertarik dengan semua tentangnya. Bahkan aku tidak peduli bahwa dia sudah punya pacar. Aku juga tahu diri enggak akan ganggu mereka, secara kita beda kota. Aku di Jogja sedangkan dia di Jatim. Kita juga beda, dia suka IT aku suka Astronomi. Tapi sebenernya kita juga punya kesamaan, yaitu sama-sama suka K-Pop. Aneh ya cowok suka K-Pop. Pertama aku mikirnya dia itu agak-agak feminim. Ternyata setelah berbulan-bulan aku jadi stalkernya pikiran itu berubah. Meskipun K-Pop lovers dia enggak terlalu suka yang girly atau boyband yang suka sok unyu. Setahuku dia suka sama G-Dragon, tapi sekarang dia sedang hijrah ke anime yang keren-keren. Sampai saat ini aku belum berhenti mengaguminya, menghilangkan rasa tertarikku padanya ataupun berhenti mengingatnya.

From ‘Melted’ to ‘Can You Celebrate?’

Melted adalah judul lagunya Akdong Musician sedangkan Can You Celebrate? Adalah judul lagunya Namie Amuro kalau enggak salah. Melted rilis tahun 2014, masih fresh. Beda dengan Can You Celebrate? , lagu ini sekitar tahun 90-an. Jadul sih tapi tiap aku denger lagu itu seolah aku sedang berada dalam sebuah imajinasi yang sulit untuk keluar, yang sarat akan makna.

Kedua judul lagu di atas mewakili pengalamanku yang tentunya butuh pengorbanan.Dan dalam pengalamanku itu terselip lembaran cinta yang mengisi semua pengorbanan itu. Mulai dari melted, lima hari aku memutar lagu itu setiap waktu break. Entah karena suasana yang mendukung atau apapun itu, aku selalu mendengarkannya. Melted menemaniku di dunia luar yang sangat asing bagiku. Lagu itu juga mengingatkanku akan suasana dingin yang akan berakhir setelah berjam-jam kami di ruangan itu. Kami, aku menyebut kami karena ada 11 orang disana. Salah satunya dia. Saat aku berusaha mencerna dan memahami apa yang tertulis di layar depanku, dia rupanya telah memahaminya. Setelah itu saat waktu luang dia memanfaatkannya untuk menikmati kedinginan ruang itu. Tidak berbeda dengan dia, aku juga membiarkan organ tubuhku yang telah lama menatap layar itu untuk beristirahat. Hanya sebentar, sebelum aku tersadar bahwa aku ada disini karena tugas. Seolah es yang beku telah mencair, aku terjaga dan melanjutkan semuanya untuk pengalaman indah ini.

Can You Celebrate?, lagu ini menjadi lagu yang akan menemaniku selama 8 hari di sebuah tempat yang tidak terlalu asing namun aku belum pernah kesana. Aku sering memutarnya bahkan sering aku menduetkannya dengan Eyes, Nose, Lips milik Taeyang yang saat itu juga baru baru rilis di youtube dan aku menjadi viewers yang ke 34. Senang rasanya malem-malem nongkrong di youtube nungguin sebuah video klip muncul. Kembali ke Can You Celebrate? , lagu itu mengingatkanku lagi tentang dia. Dia yang ada dalam suasana dingin dalam sebuah ruangan putih. Kini aku bertemu dengannya lagi, ditempat yang berbeda tapi masih dalam suatu nuansa yang sama, indah. Meski tidak sedingin kemarin, ada suasana baru yang lebih akrab. Meski saat itu jarak kami cukup jauh walaupun masih dalam satu ruang yang sama. Seolah kami berbeda kubu. Dengan pertambahan populasi penghuni ruangan, maka sulit untuk bisa fokus dengannya. Lagu itu juga merupakan keraguanku terhadap apa yang akan kujalani setelah banyak hal yang telah ku korbankan.Sebuah larik dalam liriknya yang tertulis ‘we will love, love long time’ membuatku menyadari ketidakmungkinan itu. Menurutku apa arti dalam lirik itu beda dengan ceritaku. Dan itu juga merupakan pertanda bahwa aku akan menjadi ‘musuhnya’ untuk menaklukan sebuah pencapaian. Meski aku diberi kesempatan untuk bertemu dia lagi dalam suasana menegangkan dan masih dingin, dia ada dan aku melihatnya menatap lembaran kertas itu lalu pergi, menghindari dinginnya kebekuan yang tercipta. Setelah itu berakhir, rasa ini masih sama. Walau belum bisa bertemu lagi, tapi ia hadir dalam mimpi-mimpi indahku bersama horologium yang selalu berdetak untuk mengitari sebuah putaran penunjuk angka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s