Mereka Lebih Pantas

Beberapa bulan lalu aku mengikuti sebuah “lomba” yang cukup bergengsi. Aku bersyukur sekali karena lolos tingkat kabupaten. Sebenernya hal itu juga membuatku frustasi. Ya, bagiku itu ibarat memikul sekarung beras. Tadinya aku hanya membawa 1 kg beras, kini beban itu berat, bertambah berat. Bukannya tidak senang, tapi aku merasa tidak pantas untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Kenapa? Dari sekian peserta yang lolos, aku merasa mereka punya passion tinggi terhadap bidang yang ku tekuni. Sedangkan aku? Asal kalian tahu, passionku adalah all about k-pop especially Taeyang. Mereka, teman-temanku sepertinya sangat mendambakan bisa lolos tahap ke 2. Kalau aku, jangankan tahap 2, tahap 1 lolos itu sudah sujud syukur. Kembali ke beban yang harus ku pikul. Rasanya seperti siksaan kalau aku bilang beban, ya sudah tanggung jawab saja. Hal itu membuatku semakin “galau”, aku merasa tidak pantas mewakili sekolahku. Usaha yang aku lakukan aku rasa tidak seberat yang teman-teman lakukan. Seperti saat aku “kepo”, ternyata mereka semua mengejar passion. Mereka berjuang “mati-matian” untuk mencapai ini semua, sedangkan aku?. Ya, aku hanya berselancar di dunia maya, mendownload soal dan materi tetapi tidak pernah paham. Memang aku membaca materi itu, tapi kerena kadar ingatanku hanya 0,0% maka hanya lalu saja. Aku sudah menerima konsekuensi ini semua, termasuk di”marahi” karena mempermalukan nama sekolah. Kalau tidak lolos saja, I’m fine. Lagian aku ikut ini gak murni karena ingin ikut lombanya. Sebenernya ada tujuan terselubung yaitu “bolos pelajaran”. Kan asik kalau bolos tapi alasannya ikut lomba, berasa bolos yang elit.😄. Untuk teman satu sekolahku yang ikut bidang ini ada 3 termasuk aku. Bisa dibilang penguasaan materi yang bagus itu temen sekelasku, lalu adik kelasku, yang terakhir tahu sendiri kan! Itu bukan diliat dari kacamataku, tapi dari dosen pengampu. Kalau dari aku, palingan aku di tengah-tengah, cari aman aja. Buat besok, aku cuma berharap dapet wangsit lagi, soalnya aku lolos juga karena malemnya nyari “wangsit”. Eh loh, gak kok. Aku berharap ada lucky yang setia sama aku. Bukan untuk lolos ya, tapi setidaknya aku gak malu-maluin. Enough. Terus ada pocky juga di sampingku. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s